Newsticker : Home | Guestbook | Arsip | Epaper
Berita Rubrik Bumi Etam
Kamis, 26 Desember 2013

Studi Kelayakan Bandara Sangkima Selesai

Menyusul DED, Masterplan dan Amdal

SANGATTA. Berbagai langkah dilakukan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kutim, menandai dimulainya pembangunan Bandara Sangkima. Tahun ini, penyusunan studi kelayakan atau feasibility study (FS) telah selesai. Tahun depan dilanjutkan penyusunan detail engineering design (DED), masterplan dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
Demikian dikatakan Kepala Dishubkominfo Kutim Johansyah Ibrahim. Menurut Johansyah, persetujuan dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terkait pembangunan Bandara Sangkima telah diperoleh. Karena itu tahapan pembangunan bandara harus dimulai sekarang.
“Jika ketiga program yang direncanakan tahun depan selesai, maka target kami tahun 2015 pembangunan fisik Bandara Sangkima sudah bisa dimulai,” jelas Johansyah beberapa hari lalu.
Johansyah mengakui, sesuai rencana panjang landasan pacu (runway) yang akan dibangun mencapai 1.600 meter dari semula 880 meter. Sementara lebar runway ditingkatkan menjadi 45 meter dari sebelumnya 23 meter. Sehingga setelah selesai dibangun pada 2017 mendatang, eks bandara PT Pertamina ini bisa didarati pesawat jenis Avions de Transport Regional atau ATR dan Hercules untuk kepentingan latihan gabungan TNI.
“Rencana awal panjang runway Bandara Sangkima nantinya 2.200 meter. Namun ada petunjuk dari Kementerian Perhubungan mengharapkan untuk awal panjangnya hanya 1.600 meter dengan lebar 45 meter, karena sesuai standar internasional. Nah setelah beberapa tahun beroperasi, baru akan ditingkatkan lagi,” jelasnya.
Terkait luas lahan yang disetujui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang termuat dalam usulan enclave Taman Nasional Kutai (TNK) tak sesuai dengan harapan pemerintah, Johansyah mengaku keputusan finalnya masih menunggu pengesahan DPR RI.
“Sampai sekarang DPR belum mengeluarkan penetapan berapa zona enclave yang disetujui untuk kawasan TNK. Apakah sesuai usulan Kemenhut (7.816 hektare, Red.) atau usulan tim terpadu (17.503 hektare, Red.). Makanya kita masih menunggu,” sebutnya.
Dia mengatakan, kalaupun nanti zona enclave yang disetujui DPR RI tetap sesuai usulan Kemenhut, maka otomatis kawasan Bandara Sangkima yang mendapat izin hanya untuk runway saja. Namun itu tak jadi masalah, karena untuk dapat membangun fasilitas penunjang lainnya, Dishubkominfo akan mengupayakan opsi pinjam pakai kawasan.
“Itu opsi lain. Yang jelas, kami masih menunggu penetapannya di DPR RI. Tidak mungkin bandara dibangun hanya landasan pacunya saja,” katanya.
Dari sisi kekuatan, jumlah alokasi dana di bidang prasarana dan sarana kebandarudaraan besar. Ruang lalu lintas udara yang dimiliki juga cukup besar. Sedangkan untuk lahan yang ada masih cukup luas jika hendak dikembangkan. Begitu juga jarak bandara dengan kota cukup dekat, sehingga sangat mendukung untuk dikembangkan menjadi bandara komersil.
Meskipun begitu, ada beberapa kelemahan dari Bandara Sangkima. Diantaranya, akses jalan yang belum mendukung, perangkat kelembagaan dalam penyelenggaraan lalu lintas penerbangan pun belum memadai. Lokasi bandara yang berada di area Pertamina, bukan kawasan terbuka. Sedangkan ancaman kemungkinan berupa hambatan terhadap penerapan teknologi baru, serta lokasi bandara yang berada di kawasan TNK. (jn/nin)

Edisi Sapos
  • Jumat, 30 Januari 2015
Search
Advertorial News
2 Hotel Murah Dengan Fasilitas Terbaik di Palembang

Saatnya berlibur bukan berarti waktunya menguras dompet sampai habis-habisan. Ketika…

Copyright @ 2010 Media Link. All Rights Reserved.