Newsticker : Home | Guestbook | Arsip | Epaper
Berita Rubrik Kaltim
Jumat, 20 Februari 2015

Tenggarong Seberang Cuma Punya Satu Truk Sampah

Akan Dibentuk UPT Kebersihan Tiap Kecamatan

TENGGARONG. Masih adanya desa yang tidak terjangkau truk sampah di Kecamatan Tenggarong Seberang, rupanya tidak terlepas dari minimnya jumlah truk sampah yang tersedia. Selama ini Kecamatan Tenggarong Seberang hanya memiliki satu unit truk sampah berkapasitas 6 hingga 8 kubik sampah. Jumlah tersebut sangat minim bila dibanding jumlah penduduk yang mencapai 61 ribu jiwa yang tersebar di 18 desa. Rata-rata produksi sampah di Tenggarong Seberang mencapai 123 kubik per hari. Kondisi tersebut diperparah dengan jarak antar desa yang sangat jauh dan ketiadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sehingga sampah harus dibuang ke TPA di Bukit Pinang, Samarinda.
Kondisi tersebut diakui Kasi Kebersihan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kukar Endi Abudiono yang mengatakan, sampah memang menjadi persoalan serius di Tenggarong Seberang, dalam satu hari tidak mungkin satu unit truk mampu menjangkau hingga ke seluruh desa. Belum lagi, jumlah sampah yang diangkut dalam satu desa belum tentu dapat diangkut dalam sekali jalan. “Kalau menurut hitung-hitungan, idealnya sebenarnya setiap tiga desa harus memiliki satu truk sampah, sehingga bila ada 18 desa, maka setidaknya harus ada enam unit truk sampah lengkap dengan operator dan petugasnya masing-masing,” tuturnya.
Sebelumnya, pengangkutan sampah di Tenggarong Seberang dibantu petugas dari Tenggarong Kota. Namun karena ketiadaan jembatan hal itu tidak dapat dilakukan lagi hingga jembatan yang baru rampung dan dapat dipergunakan. Untuk mengatasi permasalahan minimnya truk sampah tersebut, terang Edi, saat ini pihaknya tengah mengajukan pembentukan Unit Pelaksana Tugas (UPT) Kebersihan di tiap kecamatan di Kukar. UPT dibentuk dengan pertimbangan geografis Kukar yang tiap kecamatannya terpisah-pisah sehingga tidak memungkinkan bila dikelola hanya satu badan. Dengan adanya UPT Kebersihan, maka pemerintah lebih mudah mengadakan sarana kebersihan seperti penambahan armada truk sampah dan petugas kebersihan. Saat ini proses pembentukan UPT tersebut telah diajukan
ke tingkat pimpinan di Pemkab Kukar dan tentunya pembentukan badan atau lembaga harus dengan persetujuan DPRD. “Nanti kalau sudah ada badan yang menangani tiap kecamatan otomatis seluruh kebutuhannyaakan disiapkan seperti pengadaan truk sampah dan sebagainya,” ujarnya.
Sebelumnya diwartakan, warga Desa Loa Pari, Tenggarong Seberang mengeluhkan merebaknya serangan nyamuk Aedes aegypti di wilayah mereka. Menurut warga, kondisi tersebut tidak terlepas dari buruknya sanitasi di kawasan yang terletak di tepi Sungai Mahakam itu. Selain tidak tersedianya tempat pembangan sampah yang memadai, ternyata selama ini desa yang bertetangga dengan Desa Loa Raya ini tidak dijangkau oleh truk pengangkut sampah dari Kecamatan Tenggarong Seberang. Alhasil sebagian warga desa yang tidak mau repot, dengan gampangnya membuang sampah di bantaran sungai atau malah menumpuknya di dekat rumah mereka. Sampah yang berserakan itulah yang kemudian menjadi genangan air hujan yang kemudian menjadi tempat bertelurnya nyamuk pembawa penyakit Deman Berdarah Dengue (DBD). Kondisi tersebut diakui I Ketut Sudiyatmika, selaku Kepala Desa (Kades) Loa Pari saat ditemui beberapa waktu lalu. Menurut I Ketut Sudiyatmika, permasalahan pengelolaan sampah sangat mendesak di Desa Loa Pari untuk segera dicarikan solusinya. Minimnya sarana pembuangan sampah membuat warga masih cenderung membuang
sampah di sungai. Ketersediaan bak sampah menjadi percuma jika truk sampah tidak menjangkau Loa Pari. Pihak desa berharap agar pemerintah mengirimkan truk pengangkut sampah secara rutin ke wilayah mereka, setidaknya satu atau dua kali dalam satu minggu. “Kami berharap ada truk sampah yang melayani pengangkutan sampah di desa kami, mungkin satu atau dua kali setidaknya dalam seminggu,” ucapnya.
Di satu sisi I Ketut Sudiyatmika memahami mengapa wilayah desanya tidak dijangkau truk sampah, karena Desa Loa Pari cukup jauh dari pusat kecamatan di daerah Teluk Dalam. Selain itu sepengetahuan I Ketut Sudiyatmika, Kecamatan
Tenggarong Seberang dengan wilayah yang sangat luas hanya memiliki satu unit truk pengangkut sampah yang melayani 18 desa sehingga tidak memungkinkan mendatangi seluruh desa dalam waktu satu hari. Alhasil selama ini truk sampah baru datang ketika dihubungi kades saat ada kegiatan gotong royong yang dilaksanakan tiap bulan pada minggu ketiga. “Usai gotong-royong membersihkan lingkungan desa, sampah ditumpuk di satu tempat. Saya tinggal menelpon truk sampah agar diangkut,” ucapnya.
Terbatasnya truk pengangkut sampah yang tidak mengjangkau Desa Loa Pari diperparah dengan tidak adanya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di wilayah Ternggarong Seberang. Selama ini sampah dari Tenggarong Seberang dibuang langsung ke TPA di Samarinda. Sehingga bila Warga Desa Loa Pari berinisiatif melakukan pengangkutan sampah sendiri, para warga kebingungan harus membuangnya kemana. Karena meski jarak Desa Loa Pari sangat dekat dengan Kecamatan Tenggarong, namun akses transportasi pengangkutan sampah terkendala putusnya jembatan.
“Bila warga desa melakukan pengangkutan sampah sendiri bisa saja menggunkan Tossa (kendaraan pengangkut sampah roda tiga, REd). Tapi kendalanya TPA lagi yang tidak ada,” tuturnya. (man/kpnn/lee)

Edisi Sapos
  • Selasa, 4 Agustus 2015
Search
Advertorial News
Dahlan Menyapa lewat Video

SEJAK diluncurkan 7 Juni lalu, situs www.gardudahlan.com telah dikunjungi lebih…

Copyright @ 2010 Media Link. All Rights Reserved.