Newsticker : Home | Guestbook | Arsip
Berita Rubrik Utama
Rabu, 1 September 2010

Jadi Sapi Perahan, 40 Anak Diamankan

Berdalih Mengamen di Simpang Lembuswana, Koordinatornya Bermarkas di Pasar Pagi

SAMARINDA. Anda kerap melintas di persimpangan Mal Lembuswana? Saat itu kendaraan Anda dihampiri anak-anak yang jadi pengamen? Ternyata, para bocah tersebut memang sengaja dipekerjakan sebagai pengamen. Artinya, ada seseorang yang mengeruk keuntungan dari uang yang mungkin Anda berikan kepada pengamen cilik itu.
Dalam razia yang digelar malam tadi, Satpol PP mengamankan sedikitnya 40 anak-anak yang dipekerjakan di sejumlah persimpangan di Kota Samarinda. Sebagian diantaranya adalah pengamen. Sisanya anak-anak yang mengemis dengan dalih alias pura-pura berjualan koran. Mereka benar-benar jadi sapi perah orang dewasa yang "membinanya".
"Setelah kami hitung, ada sekitar 40 anak-anak yang berkeliaran di sejumlah persimpangan jalan di Samarinda. Kian hari, jumlah mereka makin banyak," ujar Kepala Satpol PP Samarinda, HA Rijani kepada Sapos usai razia.
Ditambahkan Kasi Operasional Satpol PP, Dahyar, puluhan anak yang keliaran di jalan-jalan, hampir seluruhnya berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka telah datang ke Samarinda sejak 2005 silam.
Namun mereka terus didatangkan. Tujuannya satu, yakni menjadi pengamen, mengemis atau berjualan sesuatu namun hanya kedok belaka. "Sebagian dari mereka memang ada yang bersekolah, tapi lebih banyak yang tidak bersekolah," tukasnya.
Mereka mengaku memiliki koordinator yang berdalih sebagai penyedia kerja atau orangtua asuh. Maklum, ada pula dari anak-anak itu yang mengaku yatim piatu.
Tak cuma itu sebut Dahyar, ada juga anak yang justru sengaja dipekerjakan meski kedua orangtuanya masih ada. Seperti halnya Ridho, anak lelaki berusia 7 tahun yang duduk dibangku kelas 2 SD di salah satu sekolah di Prevab, Samarinda Ulu.
Ia tinggal di Jl KH Agus Salim Gang Tanjung. Ayahnya bekerja sebagai tukang tambal ban, sedangkan ibunya bekerja serabutan.  "Sebenarnya orangtuanya ada. Tapi karena dibiarkan, makanya anaknya menjadi gepeng. Hal ini lagi diperparah setelah diakomodir oleh para koordinator yang bermarkas di Pasar Pagi di tepi Sungai Mahakam," tandasnya.
Para koordinator ini, kata Dahyar, sudah beberapa kali diburu bahkan markasnya dibongkar. Tapi bangunan kayu kumuh itu pun kembali terbangun sebagai markas gepeng.
"Untuk menetapkan sebagai tersangka, kami memang sedikit kesulitan. Sebab, belum lama ini pernah kami lakukan. Bahkan polisi sekalipun yang menangkap koordinatornya. Tapi ujung-ujungnya di lepas, karena dalihnya anak-anak itu bekerja atas kemauan sendiri," bebernya.
Kendati demikian, Dahyar mengaku tak pantang menyerah untuk menuntaskan persoalan gepeng anak yang kian marak tersebut. Agar tidak terkecoh dengan aksi koordinator bersama gepeng anak yang selalu mencoba mengelabui petugas, maka jajaran penegak perda di lingkungan Pemkot Samarinda ini pun melakukan investigasi dan pengangkapan.
Selain 40 anak, seorang perempuan dewasa yang menjadi koordinator juga diamankan. "Setiap operasi, anak-anak tersebut berpura-pura menjad pedagang koran, hingga menjadi pengamen. Anehnya, pekerjaan ini dilakukan hingga malam hari. Tapi ternyata di sela-sela itu, mereka meminta uang sambil mengamen dan mengemis," tegas Dahyar.
Seorang bocah, sebut saja namanya Putri (7), melintarkan pengakuan setelah diamankan dari simpang Mal Lembuswana. Ia mengaku masih bersekolah kelas 3 di sebuah SD di Jl Pirus, Samarinda Ilir. Sebelumnya, ia berasal dari Makassar.
"Diajak tante, Satria namanya, untuk pindah sekolah ke sini. Tante saya itu tinggal di Pasar Pagi. Sambil bersekolah, saya mencari uang dengan mengamen. Dalam sehari bisa dapat Rp50 ribu," sebut bocah itu.
Bahkan, kondisinya menjadi pengemen, juga telah diketahui pihak sekolahnya. Namun hingga kini tidak menjadi masalah. "Orang sekolah sudah tahu. Tapi nggak ada masalah," tutur gadis kecil tersebut yang juga mengaku berjualan koran sejak pulang sekolah hingga malam hari.
Terkait hal tersebut, Dahyar, menyebutkan tindakan para koordinator sebagai orangtua asuh atau orangtua kandung dari anak-anak ini, sunggu tidak terpuji. "Sebab, sama halnya dengan mempekerjakan anak. Karena itu kami akan mengupayakan dengan berkoordinasi lagi bersama Dinkessos (Dinas Kesejahteraan Sosial) Samarinda agar dapat mengatasi permasalahan yang melibatkan anak di bawah umur," paparnya. (air)

Edisi Sapos
  • Minggu, 5 Februari 2012
Search
Latest Guestbook
dedi ms
Jumat, 2 Desember 2011 14:21:1
untuk management PT. SEMEN TONASA SAMARINDA. Truk angkutan KT. 8838 BJ pada hari Jumat (2 Des 2011)…
Sri
Kamis, 1 Desember 2011 15:51:0
Pak Walikota, tolong dong diperhatikan jalan lintas Bukuan-Palaran yang rusak parah....jadi kubangan…
kornel
Rabu, 30 November 2011 21:34:5
Usut tuntas masalah proses lelang perawatan jembatan Kukar yg roboh... simpang-siur di media, KPK harus…
Junani
Senin, 28 November 2011 18:51:
Ingin lagi membangun hotel dan mall...samarinda kebanyakan hotel dan mall, untuk tempat bermain anak2…
kidz
Senin, 28 November 2011 15:28:
mohon kpada yg berwenang,...untuk memperbaiki jalan jembatan mahakam yg tidak rata,..bukanx mengaspal…
Dustin
Rabu, 23 November 2011 13:19:4
Kpd Yth.Kepala Poltabes Smd utk menilang semua kendaraan yg parkir sembarangan khususnya di depan SCP,…
harhyz kelana
Rabu, 23 November 2011 12:32:1
mohon kesediaannya Bapak petinggi,jika memang citra di gusur atau di relokasi,siapkanlah lahan bangunx…
DRS.HM.Kurniadi
Rabu, 23 November 2011 10:29:2
Gang Nikmat tidak bisa ditutup. APA KARENA TAKUT KEHILANGAN KENIKMATANnya?
adriel
Jumat, 11 November 2011 07:55:
diminta perhatian nya kepada sang pemerintah dan walikota setempat dimanapun berada, tolong jalan padat…
bayu
Kamis, 10 November 2011 10:52:
Ttg pembersihan parkir peti kemas di smd,jgn asal pindahkan aja ke palaran..mau dibuat apa lgi palarn,…
Copyright @ 2010 Media Link. All Rights Reserved.